Telah terbit buku kedua saya, berjudul "Pixar", diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan buku pertama saya, PT Bentang Pustaka.
Buku ini berisi kisah sukses Pixar, sejak pertama kali dirintis sampai akhirnya berhasil menjadi studio animasi yang paling diperhitungkan seperti sekarang. Di buku ini kita bisa ikuti jatuh-bangunnya Pixar, orang-orang hebat yang mengawakinya, dan kedahsyatan teknologi grafis yang melandasi karya-karyanya yang memukau.
Keterangan lengkap mengenai buku ini bisa dilihat di situs resmi Mizan Publishing. Sedikit tambahan, jumlah halaman di buku ini adalah: xiv + 179.
Tuesday, June 30, 2009
Monday, June 1, 2009
Tanggal 1 = Halaman 1
Awal bulan ini, seperti halnya awal bulan yang lalu-lalu, saya kembali kaget dengan betapa cepatnya waktu berlalu. Kondisi ini membuat saya resah, terutama saat terjadi kegagalan dalam pencapaian target buatan sendiri.Bulan ini kondisinya sama seperti bulan-bulan saat saya merampungkan buku pertama dan bersiap menggarap buku kedua. Sepertinya ada sindrom kemanjaan-kurang-ajar yang membuat saya menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan lain selain menulis.
Tentu saja itu dilakukan dengan meninggalkan remah-remah penyesalan di akhir (penyesalan memang tidak pernah hadir di awal, bukan?). Membuat saya dibanjiri pertanyaan-pertanyaan dari hati sendiri: "kenapa gak mulai nulis?", "kenapa malah main?", "kenapa kabur ke kolam renang?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.
Itu juga yang terjadi sekarang. Buku kedua sudah masuk tahap layout di penerbit, maka buku ketiga seharusnya langsung digarap, dengan menunggangi sisa semangat dan semburan ide yang masih lancar.
Tapi saya terlambat memanfaatkan moment. Sepanjang bulan Mei saya hanya merampungkan outline dan memasang target sangat muluk tentang batas waktu penulisan. Tapi hasilnya... TETTOOOTT!!! Bak kuis, saya seperti peserta yang gagal memenangkan jackpot, dan mendapat predikat sebagai peserta yang KALAAHHHH.
Ya, saya kalah dalam perjuangan menguasai waktu, saya gagal memanfaatkan hawa kreatif di bulan Mei. Tapi saya tidak mau kegagalan itu berlanjut hingga bulan Juni. Maka hari ini pun saya jadikan moment untuk mewanti-wanti diri sendiri, menyadarkan jiwa dan raga bahwa waktu bergulir dengan cepat dan tak layak disia-siakan. Hari ini saya membulatkan tekad untuk mengisi tanggal 1 dengan menulisi halaman 1.
Semangat!!!
sumber gambar: i.ehow.com
Wednesday, May 27, 2009
Waspadai Timbangan Supermarket

Ini bukan tentang seberepa presisi timbangan di supermarket, melainkan soal perbedaan harga di display produk dengan yang tertera di print-out timbangan, yang memaksa konsumen membayar lebih mahal.
Kesannya ini perkara remeh sekali ya... dan kebanyakan dari kita mungkin enggan memeriksa sticker harga, entah karena sedang buru-buru atau karena sudah mempercayai layanan supermarket yang jaringannya sudah menggurita. Tapi coba deh teliti saat membeli. Saya sering memergoki perbedaan ini, untuk berbagai jenis produk (yang ditimbang), dan di beberapa supermarket (bahkan di supermarket besar). Memang siih, selisihnya hanya sekitar Rp 1000 - Rp 1.500/Kg, tapi tetap saja ada kesalahan informasi di sana, sebagai pembeli kita tentunya menginginkan service yang benar.
Kasus pertama saya temui saat membeli buah kiwi di Carrefour Jogja. Kejadiannya sudah lama, waktu itu saya sudah memasukkan beberapa buah ke kantong plastik dan saya menghapal harga per 100 gramnya. Setelah ditimbang, tempelan harga yang keluar dari printer timbangan ternyata berbeda, lebih mahal dibanding harga di display. Saya lalu menanyakannya, dan petugas bilang bahwa yang benar adalah harga di komputer timbangan (yang lebih mahal). Saya kecewa, merasa dikibuli, tapi tetap saya beli karena malas mempermasalahkannya.
Beberapa kasus pernah juga terjadi di supermarket lain saat saya membeli ikan segar dan ayam, saya selalu menanyakannya tiap kali itu terjadi, dan selalu mereka bilang bahwa yang di display itu belum diganti label harganya.
Dan kejadian terbaru adalah kemarin malam. Saya membeli udang dan ikan tuna di Carrefour Ambarukmo Plaza. Setelah ditimbang, belanjaan saya tersebut dilabeli dengan lebih mahal dibanding harga di display.
Saya pun menanyakannya, saya sudah berancang-ancang akan membatalkan pembelian jika mereka mengatakan bahwa yang benar adalah harga di timbangan. Untungnya petugas kali ini berbaik hati mengakui bahwa yang salah adalah harga di komputer timbangan. Mereka pun merevisinya dengan harga yang sesuai. Saya pun lega.
Jadi mulai sekarang biasakanlah memeriksa label harga di supermarket. Kalau ada waktu dan masih sabar, periksa juga struk belanjaan, jangan sampai kita membayar produk yang tidak masuk di tas belanja. Biasakan juga memeriksa tagihan saat makan di restoran, terlebih saat makan dengan menu yang banyak. Restoran juga pernah salah menginputkan harga per menu, dan keliru menghitung total harganya. Kita tentu tidak mau membayar makanan yang tidak kita makan, atau membayar lebih mahal dari yang tertera di daftar menu.
Hitung-hitung amal? Tentunya itu bukan cara beramal yang baik, dan salah sasaran kalau kita beramal pada supermarket atau restoran :)
Kesannya medit banget? Kalau soal ini, kembali ke masing-masing orang, semua orang berhak menilai orang lain dengan bebas.
Semoga cerita ini bermanfaat bagi para petugas di bagian pembelian rumah tangga :)
foto yg asli ada di sini
Friday, May 1, 2009
Pisang Keju dalam Selimut
Hmmm... nafsu memasak lagi tinggi-tingginya. Lagi seneng-senengnya praktekin resep hasil browsing.Karena belum punya oven yang representatif -- punyanya microwave oven yg watt-nya lebih tinggi dari watt listrik rumah, maklum hadiah (baca: gak beli sendiri :D) -- maka resep-resep yang dipraktekin masih sebatas yang kukus-kukus, goreng-goreng dan bakar-bakar.
Nanti kalau udah punya oven tangkring, baru deh menjajal resep-resep yang panggang-panggang, yang butuh api atas, api bawah. Waaa... makin aneh-aneh dah istilahnya (begini ini hasil gabung milis masak-masak) :D
Resep yang dicoba kali ini nama aslinya Pisang Bungkus Rasa Keju. Nyontek resep yang dikirim anggota milis (maaf, emailnya udah kehapus, gak liat alamat pengirimnya), yang resep aslinya diambil dari Majalah Sedap. Siapapun pengirimnya, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Resep ini jempolan banget karena simpel dan enak.
Resepnya langsung kupraktekin, langsung sukses, dan langsung abis. Aku memberinya nama baru: Pisang Keju dalam Selimut :)
Begini resepnya:
Bahan:
Roti tawar
Selai kacang (aku gak pake, stoknya gak available :D)
Pisang barangan (aku pake pisang raja), belah dua memanjang
Keju cheddar parut
Telur
Tepung panir
Minyak untuk menggoreng
Cara membuat:
1. Giling roti tawar, sisihkan
2. Oles dengan selai kacang
3. Letakkan pisang di salah satu sisi roti tawar
4. Tabur keju cheddar parut, gulung sambil dipadatkan
5. Celup roti ke dalam telur lalu gulingkan di tepung panir
6. Goreng sampai matang
Rasanya manis, gurih, empuk, dan ada kriuk-kriuk dari tepung panir. Cocok buat sarapan atau temen minum teh.
Selamat mencoba :)
Thursday, April 30, 2009
Broom broom broom....

Oh nooo... o tidak... aku langsung bereaksi melihat judul berita ini. Provider internet yang layanannya (Broom) sering bikin aku ngomel saking sebel, mengelus dada saat ilang kesabaran, dan mutung saat koneksinya turung tung tung ini, dapet penghargaan. Internasional pula! What??!!
Ya begitulah. Ini bukan mimpi. Berpikir positif sajalah kalau memang gak mau makin kecewa. Setidaknya IM2 menang di kategori Most Innovative Wireless Broadband Company, bukan menang di kategori yang mustahil, misalnya Best Performance Internet Service, karena memang dari segi performa layanan ini masih sangat mengenaskan.
Well, baiklah, kita telaah lagi. Penghargaan ini diberikan karena Broom Unlimited-nya IM2 dianggap sebagai terobosan baru di industri broadband. Ngalah-ngalahin provider broadband dari negara lain yang masuk nominasi: Broadsoft (Amerika), Quatar Telecom (Qatar), Boingo Wireless (Amerika), iPass (Amerika), dan Confone (Swiss).
Ya... ya... sebagai cecunguk yang tidak pernah melakukan survei sampai negara-negara lain, aku terima sajalah penilaian ini. Berpikir positif bahwa setidaknya ada layanan broadband di negara kita yang inovasinya mengungguli layanan-layanan dari provider di luar sana.
Tapi... te a - ta - pe i - pi - t a p i... IM2 tetep punya Pe eR yang mesti dikerjakan. Jangan mentang-mentang dapet penghargaan lantas langsung terlena, lupa mbenerin kualitas, lupa maintain pelanggan, lupa sama sekarung kritik dan tanggepan dari pelanggan yang kuciwa tempo hari.
Buat aku -- dan mungkin banyak pengguna di luar sana -- segala macam penghargaan, ISO, Super Brand, Rekor MURI, Award-Awardan, atau apalah atribut-atribut pengakuan lainnya, tidaklah penting artinya. Yang paling penting adalah pembuktian, berupa performa dan kualitas layanan, yang kalau bisa diikuti dengan harga terjangkau (tidak menuntut murah lho, tapi yang penting terjangkau. piss :D).
Tuesday, April 14, 2009
Kejamnya Democrazy












kita patut prihatin, calon wakil rakyat kita sampai stres karena tidak bisa mengabdi untuk rakyat (??)
mudah-mudahan caleg yang terpilih bukan orang-orang stres.
mudah-mudahan caleg yang terpilih bukan orang-orang stres.
sumber gambar: detikpemilu, vivanews.com, okezone.com, riauinfo.com
Monday, April 6, 2009
Golput by Accident
Pemilu tinggal tiga hari lagi. Hari ini sudah bisa dipastikan bahwa saya tidak akan memberi suara untuk partai apa pun, tidak bakal nyontreng caleg manapun, dan mungkin nanti tidak bakal milih siapapun untuk jadi presiden.Saya masuk golongan putih? Tidak juga. Tapi mungkin bisa dibilang begitu... atau lebih tepatnya saya ini golput yang "tidak disengaja". Ini karena saya tidak terdaftar sebagai pemilih. Nama saya tidak ada di Daftar Pemilih Tetap (DPT), dan sampai hari ini belum juga menerima undangan memilih -- padahal ini hari terakhir pengiriman undangan.
Tapi apa yang terjadi jika nama saya ada di DPT dan saya diberi undangan memilih? Besar kemungkinannya saya bakal jadi salah satu kelompok pemilih yang mbalelo, yang (menurut orang-orang) tidak sadar bahwa suaranya berharga karena akan membawa perubahan.
Apa pasal? Terus terang, sampai hari ini saya belum bisa menentukan pilihan pada sekian caleg/partai yang kemarin-kemarin berpromosi minta dicontreng. Padahal kalau dipikir-pikir apa susahnya ya? Kan tinggal contreng, bisa contreng nomor urut caleg atau partainya saja. Kemarin-kemarin kan sudah kenyang dijejali ratusan foto caleg. Pilih saja yang paling cakep, atau yang paling ancur sekalian. Beres kan?
O tentu tidak. Justru di sana masalahnya. Pilihan ini sulit sekali, karena tak satu pun nyantol di hati dan kepala. Foto yang paling ganteng apalagi yang paling ancur, sama-sama tidak berhasil membujuk saya untuk memilih. Dari sekian banyak media kampanye caleg yang saya lihat, hampir semuanya seragam. Hanya berisi pesan untuk mencontreng nomor urut, tanpa memberi alasan kenapa harus memilih mereka.
Sekalinya ada yang membeberkan alasan, isinya adalah janji-janji yang belum apa-apa sudah bikin saya curiga kalau semua cuma OmDo. Janji-janjinya ada sih bagus... terlihat seperti akan menciptakan oase di tengah gurun, tapi kok kayaknya gombal ya? Maaf ya kalau saya pesimis duluan, belum apa-apa sudah curiga kalau mereka bakal sama saja seperti yang sudah-sudah, tidak akan membawa perubahan. Maaf kalau saya jadi berburuk sangka, berpikir bahwa satu-satunya motivasi mereka adalah uang, kekuasaan dan memperkaya diri sendiri.
Saya mungkin salah, tapi sampai sekarang saya belum melihat bukti bahwa yang menyalahkan saya itu benar.
Ada juga yang lucu. Ada caleg yang janji bakal bikin ini, bangun itu, ngaspal jalan ini, bikin jembatan itu. Duuuh, saya jadi pingin ngomel. "Hei, sadar gak sih, Anda itu kan caleg, tugasnya bikin legislasi, bukannya kontraktor bangunan. Jangan bikin saya makin males dong..."
Saya sudah pasti bukan warga negara yang baik. Pemilu sudah tinggal hitungan hari tapi masih belum mengenal caleg. Dikasih foto caleg ogah, datang ke kampanye apalagi, ngurusin nama sendiri biar nyantol di DPT juga nggak. Parahnya lagi, saya sudah pesimis sama partai, curiga sama caleg, males sama capres, gemes sama KPU, dan emoh sama Pemilu.
Mudah-mudahan gak banyak orang kayak saya di luar sana :D
gambar: choice
Subscribe to:
Posts (Atom)
