Monday, December 14, 2009

Mawar Penghibur

Buat saya, memelihara mawar jauh lebih menghibur dibanding anggrek. Mawar lebih mudah dirawat dan siklus berbunganya pun cukup singkat.

Kalau mau halaman rumah terus-menerus dihiasi bunga, tanamlah belasan mawar, mereka akan tekun memberi hiburan secara silih berganti.

Maksudnya, jika minggu ini mawar merah yang berbunga, mawar kuning akan mekar saat mawar merah rontok, lalu giliran mawar pink, oranye, ungu, putih, dst. Dengan begitu, halaman rumah tak akan pernah kusam. Selalu ada warna-warna pencerah dari mawar-mawar itu. Sungguh menghibur.

seperti ini:
ungu mahkota bulat, kuning, ungu muda mahkota runcing

merah, pink, merah kehitaman

kuning muda, pink, putih

mawar batik: batik merah-merah, merah-putih, merah beludru-putih

Oranye markota lancip, kuning gradasi oranye


Iklim tropis yang kita punya sangat bersahabat untuk mawar. Tanaman ini suka sekali sinar dan panas matahari. Asalkan media tanamnya cocok dan steril dari hama, mawar-mawar akan tumbuh sehat dan rajin berbunga.

Untuk mawar, saya lebih pede untuk berbagi tips pemeliharaannya (tidak seperti anggrek, di mana saya masih sangat awam).

Meski begitu, bukan berarti saya jagoan mawar ya... Saya pernah gagal memelihara mawar, saat satu-persatu dari mereka mati terserang virus (atau hama?) yang sampai sekarang saya belum tahu penanggulangannya. Tapi saya gak kapok, saya kembali mengumpulkan mawar, sampai akhirnya terkumpul 20 pohon mawar yang itu tadi, silih berganti menghibur dengan bunga-bunganya.

Baiklah, saya coba berbagi tips ya... mudah-mudahan berguna:

Tips 1:
Mulailah dari memilih bibit yang bagus. Saya biasa mencari mawar di penjual tanaman, mawar-mawar itu biasanya ditanam di polibag, yang sudah berisi media tanam berupa tanah dan sekam. Mawar yang dijual ini terdiri dari batang utama berupa mawar hutan dan mawar varietas yang distek/ditempel di mawar hutan tadi.

Mawar hutan punya daya tahan hidup yang kuat tapi tidak berbunga, makanya dijadikan batang utama. Sementara mawar-mawar yang biasa kita nikmati, bunganya berasal dari mawar varietas yang ditempel di mawar hutan itu tadi.

Nah, saat membeli perhatikan sambungan/stekannya. Pilih yang benar-benar kuat dan akarnya juga kuat. Hati-hati, biasanya ada penjual yang curang, yang menempelkan akar palsu ke batang mawar, sehingga seolah-olah mawar itu banyak akar.

Tips 2:
Media tanam harus pas, sebaiknya terdiri dari campuran sekam dan tanah kompos. Kalau dikasi pupuk kandang tambah bagus. Jika tanah di halaman tidak terjamin steril dari hama pemakan akar (semut, ulat, cacing, dll) sebaiknya mawar ditanam dalam pot dan pastikan media tanamnya steril dari hama.

Tips 3:
Mawar suka panas dan sinar matahari, jadi taruh mawar di halaman terbuka yang terkespos matahari.

Tips 4:
Rajin-rajin menyiangi daun-daun yang kuning, dan apabila bunganya sudah rontok, segera potong. Nanti cabang baru akan muncul. Selain ditumbuhi daun-daun baru, cabang baru sering kali berisi bakal bunga di ujungnya. Tumbuhnya juga cepat, tak heran jika mawar mudah/sering sekali berbunga.

Tips 5:
Kalau diserang jamur atau serangga, semprotkan pestisida atau obat serangga. Kalau satu pohon terkena gejala sakit atau tak sehat, pisahkan pohon itu dari gerombolan mawar lainnya (biar gak nular).

Tips 6:
Pemupukan tidak terlalu signifikan jika media tanamnya sudah bagus. Tapi jika bunganya terbilang jarang, beri pupuk NPK dengan unsur P (fosfor) yang tinggi, atau kasi larutan vetsin (1 sdm vetsin dilarutkan dalam 1 liter air).

Semoga berhasil...



*) Selain lebih mudah dirawat dibanding anggrek, koleksi mawar juga lebih menyenangkan karena lebih murah. Harga satu anggrek varietas biasa = harga 6-7 mawar. Apalagi kalau dibanding dengan harga anggrek hutan atau varietas langka yang harganya sampai jutaan. Wedeww...

Monday, December 7, 2009

Diet

sekadar meluruskan...

Banyak orang yang mengartikan diet sebagai program mengurangi makan, untuk mendapatkan tubuh yang langsing. Pengertian seperti itu kurang tepat, dan ijinkan saya untuk sekadar meluruskan.

Tapi siapa saya kok bisa-bisanya menyalahkan? Well, setidaknya saya pernah mendapat petuah dari ahli gizi yang saya datangi waktu kuliah dulu. Saya juga pernah menjalankan program diet atas saran dari ahli gizi tersebut.

Mengutip penjelasan belio, pengertian yang tepat untuk diet adalah mengatur pola makan untuk mencapai kondisi kesehatan yang ideal. Tidak hanya orang gemuk yang harus diet, tapi orang yang kurus pun perlu berdiet. Tujuan diet bisa macem-macem: menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol jahat, menstabilkan gula darah, menambah asupan kalori dan protein, atau malah menambah berat badan.

Nah, saya dulu datang ke ahli gizi untuk berkonsultasi tentang berat badan saya yang susah naik. Meski tidak terlalu kurus, tapi saya menilai akan lebih baik kalau saya bisa menambah berat badan barang sekilo dua kilo.

Jujur, sebenarnya saya bersyukur karena tidak mudah gemuk meski makannya banyak (hehehe...). Tapi saya ingin mencari tau adakah yang salah dalam sistem metabolisme saya yang menyebabkan berat badan saya susah naik.

Ahli gizi yang saya datangi waktu itu (ternyata sama-sama orang Bali), menilai berat badan saya memang terbilang kurang 2-3 kilogram, tapi tidak termasuk kekurusan yang mengkhawatirkan. Dibiarkan saja sebenarnya tidak apa-apa. Selama pola makan, aktivitas, dan istirahat tidak ada yang membahayakan, dia mendiagnosa bahwa kekurusan saya masih dalam batas wajar.

Alasannya, di masa kuliah seperti itu wajar kalau energi banyak terkuras untuk berfikir. Jadi meski asupan kalori dan protein dari makanan sudah tinggi, semuanya habis untuk menunjang aktivitas.

Tapi berhubung saya bersikeras ingin menaikkan berat badan, ahli gizi itu lalu menyarankan saya untuk berdiet. Program diet yang harus saya jalani, namanya diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein). Intinya, saya disuruh makan makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi, saya diberi daftar makanan, berikut jadwal makan yang dianjurkan.

***

Sekarang, saya sedang berusaha menjalani diet gula-garam. Sebisa mungkin saya mengurangi konsumsi gula karena punya sejarah diabetes. Saya harus lebih hati-hati karena konon katanya, keturunan diabetes berpotensi 6x lebih besar mengidap diabetes. Tentunya bukan hanya gula yang harus saya kurangi, tapi juga makanan-makanan tinggi karbohidrat.

*saya langsung mengernyit ketika mengetahui bahwa karbohidrat adalah gula*

Sementara untuk garam, saya menguranginya untuk berjaga-jaga saja, agar tidak mudah hipertensi (tekanan darah tinggi). Dalam satu hari, tubuh membutuhkan 500 mg natrium, sementara saya (salah satu orang Indonesia yang terbiasa menambahkan garam pada semua makanannya), menurut survei biasa mengkonsumsi 30-40 gram garam per hari. Wadooww... ngeri...

Berbagai bacaan bilang, garam adalah sumber natrium yang baik bagi tubuh, yang berguna untuk mengatur volume dan tekanan darah, kadar air, dan fungsi sel. Garam memang tidak serta-merta berpotensi menaikkan tensi darah, tapi jika kelebihan garam berpadu dengan fungsi ginjal yang kurang optimal, maka terjadilah hipertensi.

Konsumsi garam yang berlebih tentunya meningkatkan kadar natrium dalam tubuh. Jika jumlah natrium terlalu tinggi, ginjal akan mengeluarkan kelebihannya melalui urin. Apabila fungsi ginjal tidak optimal, proses pembuangan akan terhambat, sehingga natrium menumpuk di dalam darah.

Kalau sudah begitu, volume cairan tubuh akan meningkat, jantung dan pembuluh darah pun bekerja lebih keras untuk memompa darah dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Tekanan darah pun jadi tinggi, lalu dokter memvonis kita hipertensi.

Tuesday, December 1, 2009

Tongseng dan Abon

Weekend kemarin, waktu masjid dekat rumah potong hewan kurban, kami menerima hantaran sekeresek daging sapi. Beratnya kira-kira sekilo lebih, terbilang banyak untuk kami yang cuma berdua dan sama-sama bukan maniak daging.

Dagingnya sempet dianggurin sehari karena bingung mau diapain. Baru hari Minggu daging itu diolah. Dipisah-pisahkan antara daging murni, daging berurat, paru, dan hati, sementara lemaknya tidak ikut dimasak.

Yakin gak akan habis dalam sehari, akhirnya daging itu dimasak jadi dua menu: tongseng dan abon. Benar saja, tongsengnya masih jadi teman makan sampai Senin malem (iyah, diangetin terus). Abonnya juga masih ada sampai hari ini, padahal udah dimakan buat lauk, dan diisikan ke dalam roti panggang.

Boleh kan ya saya menilai masakan sendiri, maaf kalau kesannya jadi subyektif kalau saya bilang tongsengnya enak, hehehe... Mungkin karena masak sendiri, jadinya ada cita rasa yang beda dari tongseng ini.

Perbedaan yang paling kentara adalah karena tongseng ini tidak pakai vetsin (MSG), tidak seperti di warung-warung. Dimakan keesokan harinya juga masih enak.

Untuk abon, menurut saya teksturnya kurang moist, sementara rasa bumbu dan dagingnya sudah lumayan. Pinginnya dapetin warna abon yang coklat gelap, eh malah abonnya jadi garing sebelum benar-benar gelap.

***

Untuk tongseng saya pakai bumbu: bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jinten, merica bubuk. Sebelumnya daging direbus 1,5 jam bersama dengan daun salam, laos, sereh, dan garam, biar daging empuk dan gak amis.

Untuk abon, bumbunya: bawang putih, ketumbar, garam, gula merah, ditambah bawang merah dan cabe biar lebih sedap dan pedas.