Monday, April 6, 2009

Golput by Accident

Pemilu tinggal tiga hari lagi. Hari ini sudah bisa dipastikan bahwa saya tidak akan memberi suara untuk partai apa pun, tidak bakal nyontreng caleg manapun, dan mungkin nanti tidak bakal milih siapapun untuk jadi presiden.

Saya masuk golongan putih? Tidak juga. Tapi mungkin bisa dibilang begitu... atau lebih tepatnya saya ini golput yang "tidak disengaja". Ini karena saya tidak terdaftar sebagai pemilih. Nama saya tidak ada di Daftar Pemilih Tetap (DPT), dan sampai hari ini belum juga menerima undangan memilih -- padahal ini hari terakhir pengiriman undangan.

Tapi apa yang terjadi jika nama saya ada di DPT dan saya diberi undangan memilih? Besar kemungkinannya saya bakal jadi salah satu kelompok pemilih yang mbalelo, yang (menurut orang-orang) tidak sadar bahwa suaranya berharga karena akan membawa perubahan.

Apa pasal? Terus terang, sampai hari ini saya belum bisa menentukan pilihan pada sekian caleg/partai yang kemarin-kemarin berpromosi minta dicontreng. Padahal kalau dipikir-pikir apa susahnya ya? Kan tinggal contreng, bisa contreng nomor urut caleg atau partainya saja. Kemarin-kemarin kan sudah kenyang dijejali ratusan foto caleg. Pilih saja yang paling cakep, atau yang paling ancur sekalian. Beres kan?

O tentu tidak. Justru di sana masalahnya. Pilihan ini sulit sekali, karena tak satu pun nyantol di hati dan kepala. Foto yang paling ganteng apalagi yang paling ancur, sama-sama tidak berhasil membujuk saya untuk memilih. Dari sekian banyak media kampanye caleg yang saya lihat, hampir semuanya seragam. Hanya berisi pesan untuk mencontreng nomor urut, tanpa memberi alasan kenapa harus memilih mereka.

Sekalinya ada yang membeberkan alasan, isinya adalah janji-janji yang belum apa-apa sudah bikin saya curiga kalau semua cuma OmDo. Janji-janjinya ada sih bagus... terlihat seperti akan menciptakan oase di tengah gurun, tapi kok kayaknya gombal ya? Maaf ya kalau saya pesimis duluan, belum apa-apa sudah curiga kalau mereka bakal sama saja seperti yang sudah-sudah, tidak akan membawa perubahan. Maaf kalau saya jadi berburuk sangka, berpikir bahwa satu-satunya motivasi mereka adalah uang, kekuasaan dan memperkaya diri sendiri.

Saya mungkin salah, tapi sampai sekarang saya belum melihat bukti bahwa yang menyalahkan saya itu benar.

Ada juga yang lucu. Ada caleg yang janji bakal bikin ini, bangun itu, ngaspal jalan ini, bikin jembatan itu. Duuuh, saya jadi pingin ngomel. "Hei, sadar gak sih, Anda itu kan caleg, tugasnya bikin legislasi, bukannya kontraktor bangunan. Jangan bikin saya makin males dong..."

Saya sudah pasti bukan warga negara yang baik. Pemilu sudah tinggal hitungan hari tapi masih belum mengenal caleg. Dikasih foto caleg ogah, datang ke kampanye apalagi, ngurusin nama sendiri biar nyantol di DPT juga nggak. Parahnya lagi, saya sudah pesimis sama partai, curiga sama caleg, males sama capres, gemes sama KPU, dan emoh sama Pemilu.

Mudah-mudahan gak banyak orang kayak saya di luar sana :D


gambar: choice

8 comments:

Ardhi Hardiyan said...

wah saya juga belum dapat nih kartu pemilih, piklada walikota, gubernur kemarin sih dapet, double malah :) tp kali ini blm dpt satu pun.... tp kalo pun dapat saya kyknya udah mantap golput di pileg kali ini :D

untuk presiden saya mungkin lihat calonnya dulu :) kl streg ya ikut milih kl ndak ya ndak milih...

Eko SW said...

istriku jg ga dapat. aneh lho, padahal di kampungnya sana, sptnya jg belum dpt :)

Meidy said...

katanya klo ga dpt kartunya bs lgs datang.. tp udah terlanjur ya.. udah dihitung skr :)

emmet24son said...

Di rumah, aku satu-satunya yang gak dapat jatah nyontreng. Padahal udah ampir 30 tahun aku tinggal di Meruya dan gak pernah kelewat 1 pemilu-pun sejak aku umur 17. Emak dapet adik dapet. Bahkan istri yang baru tinggal 5 tahunan di sini, yang aku boyong dari Bandung setelah nikah tahun 2003 lalu, dapet jatah preman. Ada apa grangan? :P

ketut epi said...

katanya sih ada konspirasi. ada gerakan terencana utk memenangkan suatu partai. jd yg berpotensi bikin pilihan beda itulah yg ga diundang nyontreng. percaya ga? :D

Ochie said...

Aku juga gak dapet :((, seperti Katon yang dipaksa jadi Golput...

wistara said...

Aku sih dipaksa golput ama anakku :D abis dia gak suka ketempat TPS (mungkin bener juga kale...tempat or kegiatannya beraura gak bener hehehe....)

ketut epi said...

hehhee... lucu teorimu mba. bener juga ya, anak2 kan emang jujur, dan si Adit pasti anak yg pinter. Siapa dulu dong emaknya? ;)