Thursday, January 29, 2009

De Ngaden Awak Bisa

Judul di atas adalah judul lagu daerah Bali, berkategori Pupuh Ginada atau sekar alit, yang artinya lagu untuk anak-anak. Biasanya dinyanyikan sebagai lagu pengantar tidur. Begini lagunya:

de ngaden awak bisa
depang anake ngadanin
geginane buka nyampat
anak sai tumbuh luu
ilang luu buke katah
yadin ririh liu nu pelajahin

Layaknya lagu anak pada umumnya, lagu tersebut sarat akan nasehat bijak. Sembari menasehati, penembang tentunya berharap agar si anak bisa meresapi pesan dalam lagu itu sedari kecil. Kalau diterjemahkan bebas, artinya kurang lebih begini:

jangan menilai diri (paling) bisa/pintar
biarkanlah orang lain yang menilai [karena "bisa/pintar" menurut kita, belum tentu "bisa/pintar" menurut orang lain]
belajar itu seperti menyapu
selalu ada saja sampah
sampah hilang (masih ada) debu yang bertebaran
meski sudah pintar masih banyak yang harus dipelajari

Mudah-mudahan bisa jadi renungan buat kita untuk tidak berhenti belajar. Dan mudah-mudahan lagu ini didengar oleh mereka-mereka yang lagi kampanye, biar gak sok bisa segalanya.

Thursday, January 22, 2009

Ketuaan?

Petuah bijak berpesan "manusia tidak pernah terlalu tua untuk menimba ilmu". Tapi inilah yang terjadi ketika kita menimba ilmu di usia yang tak lagi muda:

"Biayanya berapa?"
"Rp 30 ribu per pertemuan"
"Kira-kira butuh berapa kali pertemuan sampai benar-benar bisa?"
"Tergantung anaknya, ada yang cepat ada yang lama. Maaf, anaknya umur berapa?"
"Waaaaa.... yang mau belajar itu saya. Ketuaan ya?"

kejadiannya sudah dua bulan lalu, saat aku tertarik ingin ikut les bikin komik.

Si pengajar komik menjawab:
"Oh, gak apa-apa kok. Murid saya gak semuanya anak-anak."
"O ya, paling tua umur berapa?"
"Emmm... ada yang udah SMP juga kok."
Dalam hati: yeeee... dibanding perempuan umur 28 tahun, ya sami mawon.


dan sampai sekarang aku belum menghubungi si pengajar komik :)

Saturday, January 17, 2009

Rindu Terbang

Aku memutuskan naik bus udara waktu pulang ke Bali minggu lalu. Alasannya sederhana: aku kangen naik pesawat. Hehehe, alasan yang norak. Biarin. Kata orang, norak pangkal pandai (dan orang itu aku :D).

Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari setahun aku gak naik pesawat. Penerbanganku sebelumnya berlangsung akhir Desember 2007 dengan rute Jogja-Denpasar. Waktu itu, bandara Ngurah Rai sedang direnovasi, ada blok pertokoan baru yang dibangun, pintu masuk dan keluar bandara juga diubah posisinya.

Begitu juga dengan bandara Adi Sucipto di Jogja. Di halaman depannya sedang ada galian waktu itu. Kupikir sedang ada pembangunan underpass. Baru minggu lalu aku tau kalau itu sebenarnya basement. Fungsinya untuk menghubungkan tempat parkir dengan pelataran bandara, dan ada beberapa ruangan di sana yang belum aku tau peruntukannya.

12 Januari aku pulang ke Bali, ada Upacara Otonan-ku* tanggal 15 Januari.

Kalau sedang tidak bekerja seperti sekarang, aku sebenarnya punya banyak waktu untuk menempuh perjalanan darat. Fisik juga gak jadi masalah, karena perjalanan Jogja-Bali tidak terlalu melelahkan. Tapi hanya karena kangen naik pesawat itu tadi, aku akhirnya memilih jalur udara. (Tak apa kalau disebut norak dua kali :D)

Penerbangan lancar, meski sempat dagdigdug karena awan tebal sekali dan angin berhembus sangat kencang. Semula aku niatkan untuk tidak banyak bicara di dalam pesawat. Aku ingin menikmati setiap moment di pesawat -- sesuatu yang sudah sangat sering aku alami dan kadang aku sia-siakan, karena dulu sangat sering bepergian.

Aku ingin memperhatikan para penumpang, pramugari, pengumuman-pengumuman yang disampaikan, bahkan nyala lampu tanda sabuk pengaman. Gak tau kenapa, aku merindukan semua itu.

Tapi niat itu tidak sepenuhnya terlaksana. Di sebelahku duduk seorang bule yang suka ngobrol. Dia bertanya ini itu, termasuk kosakata bahasa Indonesia yang baru dipelajarinya.

Aiih... aku jadi tau pengertian dia untuk sayang dan cinta. "if u love ur friend, it's called sayang". "if u love ur husband, it's called cinta." Hehehe, lucu juga. Mungkin itu cara gurunya menjelaskan pengertian sayang dan cinta. "Yes, sir!"

Pesawat tiba di Bali pukul 19.30 waktu setempat. Aku senang menginjakkan kaki di Ngurah Rai. Bandara itu diam-diam jadi favoritku, aku senang berlama-lama di sana.

Buat aku, Ngurah Rai punya atmosfir yang menyenangkan. Aku merasa sudah ada di rumah saat tiba di sana, dan merasa masih ada di rumah saat harus siap-siap meninggalkan Bali dari tempat itu. Itu sebabnya, aku senang-senang saja saat pesawat yang kutumpangi delay. Makin lama di Ngurah Rai, berarti makin lama di Bali :)

Hmmm, secara keseluruhan penerbangan kali ini menyenangkan. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mencicipi penerbangan jarak jauh suatu saat nanti, misalnya penerbangan yang waktu tempuhnya 20 jam, dan butuh tiga kali transit. Wooo... ke negeri jauh dong? Ho oh! Namanya juga menghayal, boleh kan... :D



*) Otonan adalah upacara peringatan hari kelahiran menurut perhitungan weton dan pawukon, tanggalnya berubah-ubah karena sistem penanggalannya beda dengan penanggalan masehi.

Wednesday, January 7, 2009

Yeah, Facebook!

"Halo pi, apa kabar? nongol juga di fesbuk." Sapaan Deriz di facebook hari ini makin bikin aku berasa ndeso. Kayaknya tellaattt banget kalau hari gini belum punya facebook :D

Awalnya aku malas gabung, karena ngerasa bakalan ketemu temen yang "4L" alias "lo lagi lo lagi" (ga di Friendster, di YM, orang-orangnya ya itu-itu lagi, hehhee). Tapi demi mengikuti perkembangan jaman, dan karena capek ditagih terus, aku pun memutuskan nongol.

Dan benar saja, temen-temen "baru" yang meng-invite aku kebanyakan temen-temen di Friendster, hehhee.

Tapi mesti diakui, facebook emang patut dimasuki. Ada banyak yang beda di sini, mulai dari interface sampai aplikasi-aplikasinya. Kalau tidak, dijamin bakal kagok karena katrok. (hahaha... yang ini pengalaman pribadi). Kalau kata Merdi, ini dunia yang bikin ketagihan. Masa sih? We'll see ya, Mer.

Satu hal yang mulai menyenangkan muncul di hari kedua. Beberapa narasumber IT yang sebelumnya tidak kutemui di friendster, muncul di friend request facebook, mulai dari Onno Purbo, pak Elisa (mantan Hewlett-Packard), Budi Wahyu (Intel Indonesia). Mereka itu membuatku berpikir, orang-orang sesibuk mereka pun masih sempat ber-facebook, maka gak ada alasan buat aku untuk gak ikutan sibuk di facebook :D

Sampai sekarang, satu-satunya motivasi buat aku login masih sebatas memeriksa friend request dan notifikasi. Buat fakir bandwidth macam aku ini, gak gampang untuk meng-confirm friend request.

Kemarin contohnya, awalnya ada 5 friend request yang belum di-confirm. Tapi karena koneksi melempem... tak satupun berhasil di-confirm. Saking lambatnya, waktu Facebook di-refresh, friend request udah nambah jadi 17. Hadddduuuu... kebayang dong gimana lambatnya?

Maaf ya teman-teman, nanti pasti di-confirm. Maksudnya nanti, kalau aku ke warnet, hehehe...

Thursday, January 1, 2009

Ganti Tahun

"Dimensi pergantian waktu menjadi berarti karena orang memberikan signifikansi psikologis padanya. Tanpa diberi signifikansi psikologis, suatu angka dalam kategorisasi waktu tak ada apa-apanya."
Stephen Jay Gould, palaeontolog.

(dikutip dari blog Atta, yang dia kutip dari tulisan Bre Redana di Kompas) :D


Saya ingin memberi signifikasi psikologis pada pergantian tahun. Saya bukannya tidak pernah melakukan ini, hanya saja saya melakukannya dengan cara saya -- tanpa pesta, tanpa kembang api, tanpa daftar resolusi yang panjang.

Buat saya, pergantian tahun tak lebih dari sebuah lompatan waktu yang menandai berakhirnya masa di tahun yang lama, berganti dengan masa-masa di tahun yang baru. Begitu kurang lebih. Hanya itu.

Momen pergantian tahun tidak lebih istimewa dari momen-momen lain seperti saat saya mengambil keputusan penting dalam hidup, mengalami pengalaman berharga, menghadapi cobaan, meratap di hadapan Tuhan, atau ditinggal mati. Saya lebih banyak merenung di saat-saat seperti itu, membuat resolusi, dan berjanji menjadi lebih baik.

Semalam saya melewatkan pergantian tahun dengan tertidur di ruang TV, suami membangunkan saya pukul 00.30 untuk pindah ke kamar. Dua jam sebelumnya kami putar-putar kota seadanya, sekadar melihat-lihat suasana. Dan tiga jam sebelumnya kami makan di sebuah warung tenda. Tidak ada yang istimewa.

Begitu juga hari ini, saya mengawali 2009 dengan bangun siang, bebersih, masak menu baru hasil rekayasa, makan dengan lahap, lalu menunggu sore untuk main badminton di depan rumah. Sama seperti kemarin-kemarin.

Sebuah perenungan, bolehlah itu disebut sebagai signifikansi psikologis yang saya hadirkan pada pergantian tahun kali ini. Merenungi hal-hal penting yang saya alami di 2008 dan memupuk mimpi untuk 2009, cukup membuat hati dan kepala saya penuh.

Keputusan untuk resign bulan Mei lalu, adalah salah satu hal terpenting dalam hidup saya. Proses penyesuaian diri dengan perubahan keadaan setelahnya, saya anggap sebagai sebuah pembelajaran berharga. Bagaimana saya berdamai dengan keadaan, mengatasi rasa kehilangan dan rasa bosan, memupuk semangat untuk tetap produktif, hingga menghadapi dilema saat rekan-rekan mengajak saya kembali ke detik, sungguh sebuah proses berharga.

Hari ini saya menengadah ke atas, menatap ke arah Tuhan dan bertanya, "bisakah saya disebut lulus dalam melewati proses itu? Naik kelaskah saya?" Saya berharap Tuhan menjawab seperti halnya saya menilai diri saya: lulus. Saya naik kelas. (mudah-mudahan saya tidak berlebihan).

"Saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka"

Saya berusaha mencamkan kata-kata bijak itu. Menanamkannya dalam diri saya menjadi sebuah keyakinan. Dan sepertinya keyakinan itu mendapat pembuktiannya akhir Oktober lalu.

"Saat saya memutuskan meninggalkan pekerjaan, pekerjaan lain datang kepada saya dengan cara tak terduga."

Sebuah penerbit menawari saya menulis buku dengan topik yang saya suka. Saya menyanggupinya. Naskahnya saya serahkan secara bertahap, dan hari terakhir 2008 saya menyerahkan naskah lengkapnya.

Secara tak terduga lagi, di penghujung 2008 itu mereka menawarkan topik baru untuk saya tulis dalam buku kedua. Saya kaget. Saya masih menganggap menulis buku sebagai sebuah proses menghasilkan karya, saya tidak ingin kehilangan sensasinya dengan menjadikannya pekerjaan rutin, atau mata pencaharian.

Saya hampir menolaknya karena belum tahu prospek buku pertama saya nantinya, apalagi saya sudah berancang-ancang untuk mewujudkan ide-ide di kepala menjadi sebuah wirausaha. Tapi saya tergiur dengan topiknya, mereka meyakinkan, dan memberi saya waktu 3 bulan untuk menyerahkan naskah. Maka saya pun tak sanggup menolak :)

Dalam renungan, saya juga mengenang beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Saya gagal bisa nyetir, dan bertekad belajar lebih sering lagi di tahun ini. Saya tidak melakukan perjalanan kecuali rute tetap Yogya-Bali, sementara saya pernah berkeinginan untuk melancong ke Lombok dan Bunaken.

Saya juga gagal memenuhi daftar panjang berisi aneka macam kursus dan pelajaran yang ingin saya ikuti: kursus nari, kursus jahit, kursus bikin komik, belajar melukis, belajar foto, gabung klub renang dan klub rollerblade. Saya juga belum berhasil ngedandanin blog, hahhaa...

Meski begitu, tidak ada yang saya hapus dari daftar itu. Biarkan saja tetap panjang, saya merasa masih punya banyak waktu untuk mewujudkannya suatu saat nanti. Saya belum menambah daftar itu dengan keinginan-keinginan baru. Saat ini, yang terbaik buat saya adalah menjaga semangat, makin dekat dengan Tuhan, lebih pandai bersyukur, lebih tekun dan banyak-banyak bersabar.

Selamat tahun baru, mari berharap semoga kita semua makin banyak belajar.